2nd INTERNATIONAL CONFERENCE ON DEVELOPMENT OF ACEH : From a Bitter Past Towards a Better Prospect

 

BERITA TERBARU :

  LETTER INVITATION

  CALL PAPPER

  LEAFLET PAPA 2

  PENDAFTARAN

  FORM MODERATOR

  FORM PANEL

  FORM PEMAKALAH

  FORM PESERTA

  DOWNLOAD AREA

 

Pendahuluan .....

15 Agustus 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berhasil menandatangani Nota Kesepakatan Damai, setelah hampir 30 tahun terjebak dalam konflik bersenjata yang berkepanjangan. Kesepakatan damai ini menjadi modal awal bagi terciptanya kondisi sosial politik baru di Aceh pasca konflik dan sebagai prasyarat untuk melakukan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah setelah dihantam bencana tsunami pada Desember 2004.

Beberapa tahapan dalam proses damai berhasil dilalui dengan hasil yang secara umum cukup positif, bahkan di luar dugaan; demobilisasi GAM dan decommissioning senjatanya; redeployment TNI/POLRI non-organik; amnesti terhadap tahanan politik GAM; reintegrasi mantan anggota GAM; Undang-Undang Pemerintahan Aceh; dan Pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh. Kesemuanya merupakan turunan dari kesepakatan damai yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia.

Terpilihnya Kepala Pemerintahan Aceh yang baru hasil dari Pemilihan Kepala Daerah tanggal 11 Desember 2006, diharapkan dapat membawa perubahan yang strategis, taktis dan berorientasi pada penyelesaian problema kehidupan yang melilit masyarakat Aceh sekarang dan di masa depan. Beberapa potensi konflik masih menjadi ancaman, terutama berkenaan dengan beberapa masalah yang berhubungan dengan warisan konflik di masa lalu. Sementara itu, masalah kemiskinan, tingginya angka pengangguran, terbatasnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan, ketrampilan yang tidak memadai, serta buruknya kualitas sarana dan prasarana publik sebagai dampak dari konflik dan tsunami, merupakan tantangan terberat bagi kepala pemerintahan yang baru.

Di sisi lain, harapan yang disandangkan pada pemerintahan baru dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai lembaga yang mengkoordinir pelaksanaan kegiatan pembangunan  pasca tsunami di Aceh, sangatlah besar. Masyarakat korban konflik dan korban tsunami mengharapkan kedua institusi ini mampu membuat perencanaan dan menemukan formula yang tepat dalam upaya pemanfaatan potensi-potensi yang ada untuk menunjang percepatan perbaikan kehidupan sosial ekonomi di Nanggroe Aceh Darussalam.

Banyaknya masalah yang membayangi dan besarnya harapan yang digantungkan masyarakat, jelas memerlukan dukungan energi dan pikiran ekstra dari segenap lapisan masyarakat, terutama untuk memacu pembangunan daerah untuk menghindari dari ketertinggalan Aceh dalam berbagai aspek pembangunan dengan daerah lain, baik pada tingkat nasional, regional bahkan internasional. Aceh memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk membangun kembali berbagai infrastruktur yang rusak dan hancur akibat tsunami pada 26 Desember 2004.  Keberhasilan perundingan damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki pada 15 Agustus 2005 yang telah mengakhiri konflik bersenjata di wilayah tersebut juga menjadi faktor pendorong ke arah peningkatan usaha pembangunan kembali Aceh  dengan lebih meyakinkan.

Agenda pembangunan Aceh perlu dirancang dengan teliti dan sistematis, melibatkan berbagai pihak yang mempunyai kepakaran masing-masing. Kumpulan-kumpulan pemikir dan penyusun strategi perlu dibentuk untuk memberikan pandangan, ide, gagasan, nasehat kepakaran dan membentuk bank data yang relevan.

Berpijak dari fenomena di atas, Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Malikussaleh berkerjasama dengan Pusat Studi Sosial dan Politik Universitas Malikussaleh, mencoba menggagas sebuah forum diskusi yang diharapkan dapat mengumpulkan kontribusi pemikiran dan perencanaan program yang baik dari kalangan akademis sebagai bahan masukan bagi  pengambil keputusan di NAD.

Forum diskusi ini dilakukan melalui sebuah kegiatan Konferensi Internasional ke-2 dengan tajuk : “Pembangunan Aceh: Dari Masa Lalu Yang Pahit Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik”. Kegiatan ini direncanakan menjadi agenda tahunan yang dilakukan di Universitas berbeda pada setiap tahun, untuk membicarakan permasalahan dan solusi pembangunan di Nanggroe Aceh Darussalam. Kegiatan pertama telah dilakukan pada tanggal 26-27 Desember 2006 di Kampus Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

Semoga bermanfaat dan jika terdapat berbagai saran silahkan email ke : papa2aceh@unimal.ac.id atau info@unimal.ac.id

Copyright ©2007 UPT. Pusat Komputer UNIMAL